Kenapa Bertahan dg Cinta yg Menyakitkan ??


Beberapa hari ini aku dan teman-teman kost di Perumahan Graha Modern Jaya, Makasar sering mengagendakan untuk jalan-jalan bersama. Kebetulan ada teman yang bawa mobil dan orangnya easy going diajak ngelayap. Kostku lumayan nyaman, ada sekitar 20 kamar yang terletak di lantai 2 dan 3, sedangkan lantai 1 dipakai tuan rumah. Kebetulan yang kost semuanya adalah pekerja, jadi suasana kost tidak rame seperti kost-kost mahasiswa. Dan kostku menawarkan paket harian, mingguan sampai bulanan. Makanya penghuninya sering berganti-ganti, walaupun banyak pula yang kost di situ sudah tahunan.

Dua mingguan ini ada anak kost baru, sebut saja nama A. Cewek yang berumur 26 tahun ini bekerja di sebuah perusahaan di  Lampung dan datang ke Makasar hanya untuk mengaudit cabang perusahaan di Makasar, jadi dia akan tinggal sekitar 1 bulan saja. Kebetulan A ini punya pacar orang asli Makasar. Beberapa kali aku sempat mendengar mereka berdua adu mulut di lorong kost, tapi aku cuek-cuek aja, “biasa generasi galau” itu pikirku.

Sabtu kemarin aku lihat A di kamarnya sendirian, iseng-iseng aku tawarin untuk nonton film di 21, sekalian aku mau beli beberapa keperluan harian. Ternyata A tidak suka nonton film tapi dia sepakat untuk ke luar jalan-jalan ke Mall Panakukkan (MP) dengan aku. Setelah bersiap-siap, kami berdua berangkat ke Mall yang terbesar di Indonesia timur ini dengan naik taxi. Sempat berputar-putar taxi yang kami tumpangi untuk mencari jalan alternatif karena di Jl Pettarani mahasiswa masih melakukan demo. Walaupun di rapat dagelan paripurna DPR sudah disepakati BBM ‘tidak naik dulu’ tapi mahasiswa tetep mempertanyakan komitmen pemerintah *Totally agree for that”.

Sesampai di MP kami langsung menuju ke Gramedia. Amunisi buku-bukuku sudah habis sejak beberapa hari lalu, jadi harus cari buku lagi untuk menemani malam-malamku di Makasar. Saat aku mulai memilih buku, A mendapat telfon dari pacarnya, sebut saja S. “Iya Papi, aku pergi ke MP dengan mbak Ninik,” itu sepenggal percakapan yang aku dengar dari mereka. Setelah menutup telfon, mata A berkaca-kaca, wajahnya jadi suram. Kenapa?  “Pacarku marah lagi mbak, dia tidak suka aku jalan-jalan.” Tentu aku jadi merasa sangat bersalah.

Dari situlah A mulai bercerita bagaimana si S ini sangat protective pada dia. HP, tas, dompet dan seluruh email serta jejaring sosial A diubrek-ubrek oleh S, bahkan beberapa nomor telfon teman A yang S tidak suka juga didelete dari phonebook hp A. S juga tidak suka A pergi-pergi, A hanya boleh pergi dengan S, padahal tentunya S tidak setiap saat bisa menemani A. Yang curangnya S sendiri sering dugem dengan teman-temannya sampe dinihari. A cerita kalau selama ini dia sangat tertekan, sering nangis sampe pagi gara-gara S marah-marah. Aku tentu sangat prihatin.

Selama sekitar 1,5 jam kami jalan-jalan di MP, S tidak bisa dihubungi. Wajah A sudah sangat kusut dan matanya berair. Sampai akhirnya S mau mengangkat telfon A, dan A meminta aku untuk bicara dengan S, “Maaf daeng, tadi saya mengajak mbak A ke MP,” dan dia menjawab “Tidak apa-apa mbak.” Kata A, walaupun S bilang tidak apa-apa pasti nanti dia akan marah ke A.

Aku mencoba mengajak A diskusi tentang hak asasi dia, tentang cinta dll. “Cinta itu harus menentramkan, membuat kamu bahagia, membuat kamu kuat, dan menjadikan kamu sebagai diri kamu sendiri. Bukan membuat dirimu menderita bahkan tertekan.” Aku berulang kali menekankan bahwa S tidak punya hak untuk melarang A melakukan aktivitasnya, terlebih posisi mereka masih pacaran bukan suami istri. “Sekarang kamu dilarang keluar, pasti nanti ketika kamu menikah, dia akan melarangmu kerja, melarangmu bertemu dengan teman-teman dan menjadikan kamu sebagai boneka yg terus bisa diatur.” Mendengar penjelasanku A semakin tergugu menangis. Aku sebenarnya sangat tidak tega melihat dia begitu dan menjejali dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk, tapi aku ingin dia bisa membuka matanya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan mbak?” tanya A putus asa. “Pertama, kemungkinan paling tepat dan tidak beresiko adalah kamu putus sama dia. Terlalu riskan melanjutkan hubungan yang tidak sehat ini. Kedua, kalau kamu dalam posisi sangat mencintainya dan ingin bertahan dengan dia, kamu harus mengambil sikap tegas. Kamu harus bicara dengan dia dan membuat kesepakatan-kesepakatan yang fair, dan tentunya dalam membuat kesepakatan itu kamu harus memposisikan dirimu sejajar dengan dia, jangan mau ditekan terus. Yang jelas apapun keputusanya kamu tidak boleh lembek, kalau kamu lembek dia akan semakin garang menekanmu.”

Kami pulang dari MP sekitar pukul 19.30, dan ternyata si S sudah menunggu di kost. Sekali lagi aku wanti-wanti ke A “Jangan lembek, harus tegas, Yang memiliki dirimu hanya kamu sendiri. Jangan kunci pintu” Sebelum aku masuk ke kamar, aku sempat mampir ke kamar teman yang posisinya tepat di depan kamar A, kebetulan kamarku agak jauh dengan kamar A. Aku pesen ke teman tersebut agar dia tetep membuka pintu kamarnya, “pokoknya kamu harus siaga, kalau ada apa-apa dengan A, kamu segera ambil tindakan,” dengan gaya militer temenku menjawab “Siap komandan.” Langkah ini aku ambil sebagai antisipasi kalau sampe S melakukan kekerasan fisik pada A.

Pagi jam 7, A sudah mengetuk kamarku. Matanya sembab, “aku menangis sampai jam 3 mbak,” itu kalimat pertama yg dia ucapkan ketika masuk kamarku. Aku mulai memberondong pertanyaan tentang apa yang dilakukan S. “Beruntung mbak, dia belum sampai melakukan kekerasan, hanya menarik rambutku saja.” DEG… langsung deh aku ceramahin dia tentang arti kekerasan menurut UU KDRT, “Bagaimana kamu bilang tidak mendapatkan kekerasan kalau Tiap hari nangis, tertekan, itu udah kekerasa psikologi, apalagi sekarang udah pake narik rambut, jelas itu sudak kekerasan fisik,” ujarku mulai tidak sabar. “Tapi kan cuman narik rambut doang mbak,” heran deh dengan A ini kenapa masih ngotot dan mbelain S sih ?. “Terus nurut kamu kekerasan itu seperti apa? Yang sampe memar-memar begitu? Yang sampe berdarah-darah begitu? Kalau itu definisimu tentang kekerasan, kamu hanya tinggal nunggu waktu saja kok. Sekarang narik rambut, besuk mulai nendang, nampar, dan lama-lama dia akan membawa tongkat bahkan pisau.”

Hari itu aku dan teman-teman kost merencanakan untuk ke Bantimurung, kebetulan banyak teman kost yang berasal dari luar Sulawesi, jadi kami mau explore Makasar. Bantimurung ini kawasan wisata dengan air terjun dan dua gua, letaknya di kabupaten Maros, sekitar 1,5 jam perjalanan dari kota Makasar. A sejak pagi udah kebingungan antara mau ikut atau tidak. Dia sebenarnya sangat ingin ikut, tapi lagi-lagi dia ketakutan dengan S. Ketika dia minta pendapatku, aku cuek saja menjawab “Kalau nurut aku sih tetep ikut aja, toh yang punya tubuh juga kamu, toh yang butuh relax juga kamu, toh kamu tidak merugikan siapapun, toh mencari hiburan adalah hak asasimu. Kalau pacarmu marah-marah ya hadapi aja dengan tegas, atau kalau dia curiga, suruh aja dia ikut,” teman-teman kos melongo mendengar jawabanku yang santai dan aku ucapkan sambil sarapan roti, kemudian mereka ketawa dan mendukung pendapatku. Akhirnya A memutuskan ikut pergi dengan kondisi wajah yang masih cemas, muram dan mata berair. Sama dengan aku, A yang bukan orang asli Makasar ingin juga mengunjungi tempat-tempat bagus di Makasar. Kami pergi berenam, ceweknya aku dan A. Selama perjalanan aku dan teman-teman tak henti-hentinya menggoda A. “Hayoo ini mau masuk Tol, pikirkan dulu, mau terus ikut atau turun?” Rudi yang dari Banjarmasin ini mulai menggoda A.

Sesampai di Bantimurung, A kelihatan kelabakan ketika tahu sinyal HP di tempat pegunungan ini jelek. Hp yang tidak bisa dihubungi adalah kiamat, sebab bagi S tidak ada alasan HP mati. Kami berenam sepakat akan meletakkan semua HP di tas, agar bisa explore Bantimurung dengan tanpa gangguan HP,  dan tentunya ini untuk mengalihkan pikiran A juga. Dan selama di Bantimurung, kami sukses membuat A tertawa bahagia, dan melupakan S sesaat.

Ketika perjalanan pulang dan sinyal hp mulai normal, kegaduhan antara A dan S dimulai. “Papi, bener deh hanya jalan-jalan saja kok, ini juga ada mbak Ninik. Ahh….papi pleaseee, jangan pergi dulu, aku udah diperjalanan nih, sejam lagi nyampek bla..bla…” uhhhhhh rasanyaaaa telingaku gatel betul mendengar rengekan dan nada memohon dari A untuk dimaafkan, untuk dimengerti. Jadilah sepanjang jalan pulang aku berceramah ke A dan teman-teman lain hanya ikut ngomporin. “Dalam kekerasaan itu ada siklusnya, Siklus kekerasan-siklus penyadaran-siklus permohonan maaf-siklus honeymoon-siklus kekerasan lagi. Percaya deh pasti beberapa hari lagi kalian akan mesra tapi kemudian dia akan melakukan kekerasan lagi,” ujarku berceloteh ke sana-kemari.  Dasar teman-teman pada iseng semua, udah ngerti A ditunggu pacarnya, eh Rudi yang kebagian menjadi driver malah membelokkan mobilnya ke pantai Losari, “kita potret-potretan dulu lah, mumpung Ucup bawa SLR nya,” kata Rudi. “SETUJUUUUUU” teriak kami serempak, kecuali A. “Sudahlah matikan hp mu, entar bilang aja batre habis. Biar dia gak sibuk ngeribetin kamu,” Aih aihhh Erik mengajukan usul yang bagus ke A. Dan A sepakat, HP dimatikan, lanjut edisi potret-potret di Pantai Losari.

A juga heran ketika suamiku menelfon dan aku dengan santai bilang, “Sayang, I have a great time in Bantimurung. Right now, we take pictures in Losari, no worry I will tag you my pics, I totally understand that you miss me so much heheh. By the way, I plan to spend long weekend next week to Samalona island with friends. This month, probably I will go to Palu and Jakarta. Before I come back to Java, I want to explore Sulawesi and east Indonesia, so I already contact some families and friends in Kendari, Luwuk, Sorong.” Dan suamiku dengan santai menjawab, “It is fine sayang, as long as you are happy and you can give more positive things to others, I always support you.” Mendengar obrolanku dengan suamiku, A bertanya, “Mbak, kamu diijinkan muter-muter kemana-mana itu ? padahal itu suamimu kan? Kok bisa ya?” aku hanya nyengir aja, “Bagi kami terkadang hanya butuh menginformasikan saja aktivitas dan planning kami, tidak pada ‘formal’ untuk mintak ijin, soalnya kami kan sudah saling tahu kesukaan dan aktivitas masing-masing.”

Kisah A ini membuatku berpikir, kenapa ya ada orang yang mau menghabiskan hari-harinya dengan cinta yang menyakitkan ? Bukankah cinta itu harus memberikan kebahagiaan bukan malah membunuh pelan-pelan ?. Yang lebih tragisnya ternyata masih banyak perempuan yang menggadaikan hak dan harga dirinya untuk diinjak-injak orang lain. Perempuan tidak boleh lembek, tidak boleh hanya menganggukkan kepala ketika diatur-atur dan dilarang oleh orang lain. Perempuan harus tegas dan tidak boleh memberikan tempat bagi orang lain untuk mempressure dia.

Ah jadi semakin sayang dan cinta sama Suamiku yang hebat..yang tidak pernah melarang-larang aku dan selalu mensupport aku. Love you Babah :)




Nihayatul Wafiroh

Adalah anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) yang mewakili Daerah Pemilihan Jawa Timur III (Banyuwangi-Bondowoso-Situbondo). Saat ini juga dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal di Dewan Pengurus Pusat PKB. Aktif dalam Kaukus Perempuan Parlemen RI sebagai Wakil Sekretaris.