Aku Tak Memiliki Tubuhku


Laras membanting celana yang baru dibelinya tadi pagi di sebuah toko baju kumuh di tengah pasar.

“Lagi-lagi tidak muat,” sungutnya sambil menghempaskan tubuhnya di kasur. Jengkel sekali hati Laras, dia sudah beberapa waktu lalu bolak-balik ke toko baju bekas tersebut, untuk memastikan celana jins dengan ukuran XXL itu belum dibeli orang lain. Dia harus menunggu mimpinya untuk segera memakai celana itu selama setengah bulan, sebelum akhirnya pagi ini dia bisa membawanya pulang sehabis menerima gaji, tapi ternyata celana jins yang warnanya sudah memudar karena bekas ekspor tetap tidak muat. Ihhhhhhhhhhhh

Laras bangkit, dan menuju kaca besar usang di pojok kamarnya. Dia amati tubuhnya dari ujung rambut hingga ke kaki. Dari segi wajah, Laras tidak bisa dibilang jelek. Dia punya hidung yang mancung. Bibirnya pun banyak orang bilang seksi. Matanya hidup. Rambut Laras hitam sebahu. Laras juga memiliki kulit yang putih bersih.

Tapi coba lihat ukuran tubuh Laras yang jauh dari ideal. Kakinya besar, bila berjalan kedua pahanya saling berdempetan. Mungkin lebih dari lima kilogram lemak mengumpul di perutnya, hingga menjadikan perutnya lebih menonjol dari buah dadanya yang sudah mulai menyentuh perutnya. Pipinya yang tembem sering kali menjadi sasaran kawan-kawannya untuk dicubit. Jari-jari tangannya juga sangat besar dipenuhi lemak. Bahkan ukuran bajunya sulit ditemukan di toko, karena kebanyakan toko di kotanya hanya menyediakan ukuran baju bagi orang “normal” dengan size M-L.

Setiap kali Laras melihat tubuhnya dalam kaca dia selalu ingat perkataan Emaknya yang selalu membayangkan anak perempuan satu-satunya dari lima orang bersaudara ini bisa tambil cantik seperti Heni tetangga sebelahnya.

“Lihat tuh Heni, badannya langsing, jadi berpakaian apa saja bagus. Beda sama kamu, pakai baju kecil kelihatan semua lemak-lemakmu, pakai baju besar malah seperti balon udara. Gimana orang akan melirikmu kalau kamu tetap seperti ini” Miris sekali mendengarnya. Laras yang saat itu sedang membantu Emaknya memasak di dapur, merasakan matanya mulai perih. Entah perih karena hatinya menjerit-jerit atau karena efek dari bawang merah yang sedang dia potong. Emaknya yang sedang menggoreng tentu tidak melihat perubahan muka Laras.

“Ah Mak jahat sekali membandingkaku dengan Heny, bukankan aku jadi seperti ini juga karena kesalahan Emak?” gerutu Laras dalam hati, sambil mengusap air mata dengan ujung kaos oblongnya.

***

Belum lepas dalam ingatan Laras, tiga tahun lalu sehari setelah dia menerima surat pemberitahuan lulus dari SMA, dia harus bersitegang dengan Bapaknya.

“Pokoknya kamu harus menikah,” bentak Bapak sambil menggebrak meja makan.

“Bapak, Laras masih mau kuliah,” jawab Laras tak kalah kerasnya.

Laras menatap Emaknya dengan mata memohon dukungan darinya. Tapi Emaknya yang duduk di ujung kursi ruang makan hanya tertunduk dengan berlinangan air mata. Menyadari tidak ada lagi yang bisa membantunya, semua persendian Laras serasa keropos dan tak mampu lagi menopang badan kurusnya, hingga akhirnya tubuhnya melorot ke lantai.

“Kamu itu mau kuliah pake apa? Eling, Bapak ini cuman buruh musiman pabrik” Bapak terus saja menceramahi panjang lebar, walaupun Laras sudah tak kuat lagi mendengarnya.

Perkataan Bapak adalah seperti titah raja yang harus diikuti. Berbeda pendapat dengan Bapak sama artinya mengajak perang. Akhirnya, dengan air mata yang terus mengalir bak sumber air di atas bukit kampungnya, Laras duduk di depan penghulu dengan orang yang umurnya lebih tepat sebagai pakleknya. Menurut Bapak, laki-laki ini adalah pasangan yang tepat bagi Laras, pekerjaannya sebagai tukang ojek akan bisa menjadi jaminan bagi kehidupan Laras. Walaupun wajah putih Laras hanya dipolesin make up tidak bermerek, dan tubuh langsingnya sekedar  dibalut kebaya biru murahan, Laras kelihatan sangat cantik. Suami Laras tak berkedip memandanginya dengan mata dan senyum yang menyimpan nafsu memuncak.

Laras merasa tubuhnya telah dirampas ketika di malam pertama tangan-tangan kasar suaminya mulai menggerayai kulit yang sama sekali belum pernah tersentuh oleh orang lain sejak dia menginjak aqil baleq. Ada perasaan jijik setiap kali suaminya mulai memuntahkan cairan. Tapi Laras sudah tidak memiliki hak dan rasa atas tubuhnya. Setiap malam Laras hanya seperti boneka, yang diam saja dibuat mainan oleh suaminya.

Impian sedehana Laras untuk bisa menjadi guru pupus sudah. Laras hanya mampu duduk termenung setiap kali dia mendengar kabar kawan-kawan SMA nya mulai merantau ke luar kota. Mereka ada yang bekerja dan banyak pula yang melanjutkan sekolah. Pengalaman sebagai ketua Osis dan pemimpin redaksi majalah di sekolah tak berarti apa-apa lagi bagi Laras kini.

Wajah Laras memerah, badannya bergetar sangat hebat ketika dia melihat ada dua garis merah sebagai pertanda dia positif hamil. Dengan sekuat tenaga Laras membuang batangan alat test kehamilan yang dibelikan suaminya semalam.

“Aku tidak mau hamil” jerit Laras sekuat-kuatnya sambil menjambak rambutnya.

Laras benar-benar tidak siap untuk hamil, dia masih ingin menikmati masa mudanya. Laras bahkan tidak pernah tahu bagaimana kehamilan ini bisa terjadi, kalau selama sebulan menikah ini Laras tidak pernah merasakan kenikmatan yang menurut orang sebagai surga dunia.

“Alhamdulillah Nduk, akhirnya Allah mempercayaimu untuk segera mendapat momongan” ucap Emaknya dengan berbinar.

Dengan mata merah bak singa yang kelaparan Laras berteriak keras ke Emaknya, “Emak, kenapa tidak pernah mengajari cara untuk mencegah kehamilan? Emak kan tahu aku tidak mau hamil dulu, aku masih punya segudang impian.” Emaknya diam menatap nanar Laras.

“Apakah Emak hanya menginginkan cucu dari perkawinanku?”

Tak jua sepatah katapun keluar dari mulut Emak.

“Apakah Emak lupa dengan kata-kata Emak sendiri kalau aku harus lebih pinter dari Emak . Apakah Emak juga ingin nasibku tidak berubah dari Emak?” suara Laras seperti meriam yang memuntahkan semua pelurunya.

Ketidaksiapan Laras untuk menerima kehamilannya menjadikan dia secara sembunyi-sembunyi berusaha menggugurkannya. Saat suaminya sedang bekerja, diam-diam dia pergi ke toko obat cina untuk membeli beberapa butir pil terlambat datang bulan. Harga obat ini terhitung lumayan mahal, namun Laras berusaha menyisihkannya dari uang belanjaan harian. Tapi sudah seminggu mengkonsumsi obat yang terkenal manjur itu, tetap belum ada tanda-tanda kalau bakal bayi dikandungannya akan luntur. Laras juga mencoba untuk mengkonsumsi semua makanan yang menurut orang di kampungnya di haramkan bagi ibu hamil.

Laras semakin geram, ketika kehamilannya memasuki bulan kedua tidak ada tanda-tanda kalau semua usahanya untuk menggagalkan kandungannya berhasil. Laras ingat saat kelas dua SMA dulu, kawan sekelasnya ada yang mengugurkan kandungannya dengan bantuan dukun di kecamatan sebelah. “Ah rasanya aku tak senekat itu” gumam Laras sambil mengurut perutnya.

Kekecewaannya akan kondisi kehamilan yang tidak diinginkan menjadikan Laras melampiaskan semuanya dengan cara dia sendiri. Dia tidak lagi sibuk mengkonsumsi obat atau jamu itu tapi Laras seperti berubah bak buto ijo yang memakan segalanya.

“Sini kang kalau tidak habis, aku yang ngabisin,” ucap Laras sambil menarik piring dengan nasi yang tinggal separuh dan dua potong tempe dari hadapan suaminya. Suaminya hanya mampu melongo melihat nasinya sudah berpindah ke mulut Laras. Padahal semenit lalu Laras telah melahap sepiring penuh nasi plus lauk pauknya.

“Pak, baksonya ya dua mangkok” teriak Laras dari jendela ruang tamunya, ketika ada tukang bakso keliling lewat. Padahal di mulutnya, Laras masih sibuk mengunyah gado-gado yang barusan dia beli dari warung Mak Wet. Seperempat jam berikutnya Laras sudah keluar rumah menuju warung bubur kacang ijo di tetangganya.

Laras benar-benar telah berubah menjadi monster yang semua jenis makanan bisa dilahapnya. Perutnya seperti tidak lagi berspasi antara lemak-lemak yang menumpuk dan kehamilannya. Berat tubuhnya sudah naik melebihi batas maksimal garis di buku kehamilan yang diberi bidan. Emak, bidan dan juga suaminya sudah mewanti-wanti Laras untuk mulai menjaga pola makannya. Tapi Laras tetap tidak perduli. Laras merasa dia sudah tidak memiliki tubuhnya, kalaupun dia akan meledak karena kegemukan, dia sudah tidak ambil pusing lagi.

“Ibu harus sabar ya, anak Ibu tidak bisa kami selamatkan, dia menderita obesitas yang mengakibatkan jantungnya tidak berfungsi, sekali lagi ….” Entah apa lagi yang diucapkan suster yang membantunya melahirkan dengan operasi cesar, Laras sudah pingsan.

Kepedihan Laras setelah kehilangan bayinya tiga bulan sebelumnya semakin bertambah ketika dia mendapati suaminya selingkuh dengan perempuan dari desa sebelah. Laras yakin bila suaminya tidak akan sebejat itu. Dengan mengumpulkan seluruh kekuatan yang dia miliki, Laras mencoba bertanya baik-baik ke suaminya sebelum mereka beranjak tidur.

“Kang, kemarin waktu aku pulang dari pijet di mbah dukun, aku melihatmu berboncengan dengan si Ani, mesra sekali, kalian tidak sedang pacarankan” tanya Laras dengan sehalus mungkin.

Suaminya tampak terkejut, hingga dia terlonjak dari posisi tidurnya. Tapi itu hanya sesaat sebelum akhirnya dengan suara yang meledak dan mata yang melotot ke Laras, suaminya setengah berteriak menjawab, “Iya, aku pacaran dengan dia. Memang kenapa? Kamu mau marah?”

Jantung Laras seperti berhenti sesaat, bukan hanya kaget dengan bentakan suaminya tapi dia tidak siap dengan jawaban yang dia terima. Lebih tepatnya Laras tidak pernah menyiapkan diri untuk mendengar jawaban tersebut. Laras berharap suaminya akan menyanggah kecurigaannya, bukan malah membenarkannya.

“Kang, benarkah itu?” Laras mencoba meyakinkan apa yang dia dengar.

“Kamu tidak budegkan?”

“Lalu kenapa kamu lakukan itu kang?” suara Laras mulai parau.

“Emang enak apa tidur sama gajah kayak kamu itu?”

Pita suara Laras seperti tersekat tak tau harus bilang apa lagi. Laras tidak tersedu, tidak bersuara hanya air matanya jatuh satu persatu membasahi pipinya. Bahkan Laras seperti telah berubah menjadi patung hingga tak mampu mencegah ketika suaminya berganti baju dan ke luar rumah. Bunyi suara motor bebek suaminya yang menjauh dari rumah seperti membawa pula semua raga Laras. Ya… orang yang merampas masa depan dan tubuhnya telah membuangnya seperti kotoran tidak berguna.

Semakin hari Laras semakin membenci tubuhnya. Dia merasa hanya memiliki nuraninya sedangkan tubuh yang sekarang menempel bukan miliknya. Laras hanya menitipkan hati dan jiwanya dalam tubuh yang Laras sendiri tidak mengenalinya.

Nafas Laras sudah engos-engosan, sudah beberapa hari ini dia berputar-putar untuk mencari pekerjaan. Setelah suaminya memutuskan untuk menceraikannya, Laras harus berusaha menghidupi dirinya sendiri. Tentu tidak banyak yang bisa di harapkan dengan ijazah SMA dan kondisi tubuhnya.

Satpam di supermarket itu tertawa terbahak-bahak dengan temannya, hingga air matanya keluar. “Mau daftar jadi kasir? Huahahhahahahahah” tanya satpam itu lagi sambil terus ketawa.

“Saya dulu waktu SMA jurusan ekonomi Pak, jadi saya bisa hitung-hitungan” Laras mencoba membela diri.

“waduh mbak, sana tuh ikut berderet sama sapi-sapi yang mau buat kurban besuk pagi, dari pada daftar jadi kasir” kata satpam satunya lagi yang disambut tawa yang lebih kencang dari kawannya. “Ah guyonan bodoh itu terdengar lagi” gerutu Laras sambil melangkah pergi, meninggalkan satpam-satpam yang sok sempurna itu.

Laras seperti menjadi pesakitan dalam dirinya sendiri. Dimanapun berada selalu saja Laras menjadi bahan olok-olokan. Sudah tak terhitung berapa kali dia harus menerima senyum sinis dari penumpang angkot di sebelahnya, karena mereka mendapat jatah kursi lebih sedikit. Laras juga sudah beberapa lama menstop melihat TV. Pengen muntah saja melihat orang-orang berduit dan sok sempurna itu wira-wiri di telivisi dengan memamerkan berbagai macam obat pelangsing. “Hanya orang yang berkantong tebal yang bisa beli obat dengan harga Rp 999.000” umpat Laras.

Setelah mengelilingi kota selama seminggu lebih, akhirnya Laras mendapat pekerjaan juga.

“Jadi kamu nanti harus siap di corang-coreng wajahmu. Dan nanti si Tono akan menghinamu habis-habisan, biar penonton ketawa,” Laras menyimak arahan dari pemilik group sirkus keliling ini dengan senyum kecut.

“Ah aku sudah tidak perduli lagi mau diapakan tubuhku ini, toh aku sudah lama tak memilikinya, dan bukankah tubuhku ini hanya untuk dinikmati dan diolok-olok?” gumam Laras sambil memakai baju baby doll dengan warna-warna kontras dan bersiap tampil.

 It has been published in Madina Magazine




Nihayatul Wafiroh

Adalah anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) yang mewakili Daerah Pemilihan Jawa Timur III (Banyuwangi-Bondowoso-Situbondo). Saat ini juga dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal di Dewan Pengurus Pusat PKB. Aktif dalam Kaukus Perempuan Parlemen RI sebagai Wakil Sekretaris.